Wow....setelah membaca kisah dibawah ini di website http://www.yamaha-vega.or.id/ terdapat tulisan bro kucinkgarong akhirnya terinspirasi dan ingin share ...semoga bermanfaat . ini kisah yang di dapat link tetangga. Kisah nyata ini ditulis oleh seorang dosen ITB
bernama Rinaldi Munir mengenai seorang kakek yang tidak gentar berjuang
untuk hidup dengan mencari nafkah dari hasil berjualan amplop di Masjid
Salman ITB. Jaman sekarang amplop bukanlah sesuatu yang sangat
dibutuhkan, tidak jarang kakek ini tidak laku jualannya dan pulang
dengan tangan hampa. Mari kita simak kisah “Kakek Penjual Amplop di ITB”.
Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu
melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia
menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas
barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi
pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di
pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang
mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh
dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu
dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini.
Showing posts with label perjuangan Penjual Amplop. Show all posts
Showing posts with label perjuangan Penjual Amplop. Show all posts
Inovasi Peci Awi Tangerang
Bambu banyak tumbuh di lingkungan masyarakat bahkan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari hari, dari rebung untuk bahan pangan...
-
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi Banten akan adakan musyawarah Daerah. Hal ini sesuai mandat nomor : 016/SM/DP...
-
Saat berada di pusat pemerintahan kab.tangerang pas memasuki gerbang patung tigaraksa terlihat kiri dan kanan jalan menuju pusat pemda bany...
-
Bambu banyak tumbuh di lingkungan masyarakat bahkan banyak digunakan untuk kebutuhan sehari hari, dari rebung untuk bahan pangan...
